Tayammum: Tangan saja atau sehingga siku?

Tayammum: Tangan saja atau sehingga siku?


Oleh: Syaikh Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih Alu Bassam

Dari Amar bin Yasir  radiyallahu ‘anhu dia berkata,

بَعَثنِي رَسُولُ اللَه صلى الله عليه وسلم في حَاجَةٍ فَأجْنَبْتُ فَلَمْ أجدِ الْمَاءَ فَتَمَرغْتُ في الصعِيدِ كمَا تَمَرَغُ الدَّابة ثمً أتيْتُ النًبيَّ صلى الله عليه وسلم فَذَكَرْتُ ذلِكَ لَهُ فَقَالَ: ” إنَّما كان يَكْفِيكَ أن تَقولَ بِيَدَيْكَ هكَذَا ” ثمَّ ضَرَبَ بيَدَيْهِ الأرْض ضَرْبَةً وَاحِدَةً، ثُم مَسَح الشِّمَالَ عَلى الْيَمِينِ وَظَاهِرَ كَفَيهِ ووَجهَهُ

Rasulullah mengutusku untuk suatu keperluan, (di tengah perjalanan) aku junub dan tidak mendapati air, lalu aku pun berguling-guling di tanah seperti bergulingnya binatang, kemudian aku mendatangi Rasulullah dan menceritakan kisahku maka Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya cukup bagimu untuk melakukan hal ini dengan tanganmu.” Kemudian beliau menekapkan tangannya ke tanah dan menpukkannya satu kali, kemudian mengusapkan tangan kiri di atas tangan kanan, juga kedua belakang tapak tangan serta wajahnya. (HR Bukhari)

Makna secara global

Rasulullah mengutus Amar bin Yasir berpergian untuk suatu keperluan, kemudian dia junud dan tidak mendapati air untuk mandi. Saat itu dia belum mengetahui hukum tayammum untuk junub, namun mengetahui hukum tayammum itu untuk hadats kecil. Dia pun berijtihad dan menduga bahawa sebagaimana mengusap dengan debu digunakan pada sebahagian anggota wudhu ketika mengalami hadats kecil, maka debu yang digunakan untuk bertayammum di saat junub harus mengenai seluruh tubuhnya, kerana menyamakannya dengan air sehingga dia pun berguling-guling di atas tanah kemudian solat.

Setelah sampai kepada rasulullah ijtihad peribadinya , maka dia sampaikan hal itu agar dinilai Rasulullah samada benar atau salah. Maka Rasulullah menjawab, “Cukuplah hal itu bagimu dengan memukulkan kedua tanganmu ke tanah satu kali pukulan, kemudian mengusapkan tangan kanan di atas belakang (punggung) tangan kiri, kemudian mengusap wajahmu.”

Perselisihan ulama

Para ulama berselisih:

  1. Bolehkah satu kali tepukan debu tayammum digunakan u tuk mengusap wajah sekaliguss dua tapak tangan? Ataukah harus dengan dua kali tepukan (untuk wajah dan kedua tangan-AbuHura1rah)
  2. Haruskan mengusapkan dua tangan sampai ke siku?

Sebahagian dari mereka di antaranya Imam Syafi’i berpendapat harus dua kali tepukan, satu untuk wajah dan yang kedua untuk pergelangan sampai ke siku, berdasarkan beberapa hadits di antaranya yang diriwayatkan oleh ad-Daruquthni dari Ibnu Umar

التيمم مرتان ، ضَرْبَة للوجه وَضَربة لليَدَيْن إِلَى المِرفَقَيْنِ

Tayammum itu dua kali tepukan, satu untuk wajah dan satu untuk dua tangan sampai ke siku.”

Majoriti ulama, di antaranya Imam Ahmad, al-Auza’i, Ishaq dan ahli hadits berpendapat, Tayammum itu cukup satu kali tepukan dan bahawa yang diusap itu hanyalah wajah dan kedua tapak tangan (pergelangan tangan).

Mereka berdalil dengan hadits yang shahih, di antaranya hadits Ammar ini. Ibnu hajar mengantakan Ammar berfatwa tentang hal ini setelah Rasulullah wafat, dan perawi hadits ini lebih mengetahui aoa yang dia (Ammar) maksudkan. Mereka juga meletakkan hadits-hadits yang menyatakan bahawa tayammum adalah dua kali tepukan, demikian pula tentang pengusapan sampai ke siku, permasalahan ini menjadi polemik di kalangan ulama.

Kita tidak menggolongkan hadits-hadits (menepuk dua kali dan mengusap sampai ke siku) di antara hadits yang shahih lagi sharih.

Ibnu Abdil Barr berkata, “Majoriti atsar yang sampai kepada Rasulullah dari Ammar adalah satu kali tepukan, adapun hadits yang menyatakan dua kali tepukan semuanya ada kegoncangan di dalamnya.

Ibnu Daqiqil Ied berkata, “Hadits yang menyatakan dua kali tepukan ketika tayammum satu untuk wajah dan satu untuk kedua tangan memang ada, tetapi tidak dapat menandingi keshahihan riwayat yang menyatakan hanya satu kali tepukan.

Imam al-Khaththabi berkata, “Sekelompok ulama berpendapat bahawa tayammum adalah satu kali tepukan untuk wajah sekaligus dua tapak tangan, inilah pendapat yang paling shahih di dalam periwayatan hadits.”

[Dinukil dari kitab Taisirul ‘Allam Syarah Umdatul Ahkam karya Syaikh Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih Alu Bassam, terbitan Cahaya Tauhid Press dengan sedikit olahan bahasa-AbuHura1rah]

No comments yet

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: