Erti Taqwa

Erti Taqwa


Penulis: Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali –hafizhahullah-

Kata (اَلتَّقْوَى) berasal dari kata (وَقْوَى), dari kata (اَلْوِقَايَةُ), huruf wau (و) yang pertama diganti dengan huruf ta (ت) sehingga menjadi (تَقْوَى). (Lisanul ‘Arab [15/403])

Kata taqwa mengandungi makna menolak sesuatu dari sesuatu dengan selainnya sedangkan kata (اَلْوِقَايَةُ) mengandung makna menjaga sesuatu. (اِتَّقِِ اللَّه) maknanya jadikanlah antara kamu dengan-Nya sesuatu bagaikan penjaga. (Maqayiisil Lughah [6/131])

Seperti yang dikatakan oleh Nabighah Dzibyan

سَقَطَ النَّصِيفُ ولم تُرِدْ إسقاطَه

فتناوَلَتْهُ واتَّقَتْنا باليَدِ

“Tutup kepala terjatuh padahal dia tidak ingin menjatuhkannya, lalu dia mengambilnya dan melindungi diri dari pandangan kami dengan tangannya.”

Yang lain berkata,

فَأَلْقَتْ قناعاً دونَه الشمسُ واتَّقَتْ

بأحسنِ مَوْصولينِ كَفٍّ ومِعْصَمِ

“Dia melemparkan tutup kepala yang menjaga dari terik matahari, lalu dia menjaganya dengan dua anggota badannya yang indah, pergelangan dan tapak tangan.”

Kesimpulannya kita tahu bahawa maka dari kata ‘taqwa’ adalah seorang hamba menjadikan sesuatu sebagai pelindung antara dia dengan sesuatu yang ditakutinya.

Ketaqwaan hamba kepada Rabb-nya bermakna dia menjadikan sebuah perlindungan antara dia dan sesuatu yang dia takuti dari Allah seperti kemarahan, kebencian dan azab-Nya dengan mentaati segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Kerana ketaqwaan itu adalah rasa takut kepada Allah secara terus-menerus dan kehati-hatian agar tidak melanggar aturan-Nya secara terus-menerus, waspada terhadap duri-duri perjalanan kehidupan yang mana dia akan saling ditarik oleh duri-duri syahwat, duri-duri rasa takut dari siapa saja yang sama sekali tidak dapat memberikan manfaat dan mudharat, juga duri-duri harapan yang sementara dan angan-angan dari siapa saja yang pada hakikatnya sama sekali tidak dapat mewujudkan harapan dan angan-angan atau permohonan tersebut.

Oleh kerana itu ‘Umar bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang taqwa, lalu Ubay berkata

“Bukankah engkau pernah melintasi jalan yang berduri?”, “Betul” kata Umar. Ubay bertanya bertanya kembali, “Apa yang engkau lakukan ketika melintasinya?” Umar menjawab, “Berhati-hati.” “Itulah taqwa,” jawab Ubay.

Ibnul Mu’taz mengambil makna tersebut seraya berkata,

خلِّ الذُّنوبَ صَغِيرَها. وكَبِيرَها فَهْوَ التُّقَى

واصْنَعْ كماشٍ فَوْقَ أَرْضِ الشَّوْكِ يَحْذَرُ ما يَرَى

لا تَحْقِرَنَّ صغيرةً….إنَّ الجِبَالَ مِنَ الحَصَى

“Tinggalkanlah dosa-dosa, kecil maupun besar, itulah makna sebuah ketaqwaan. Melangkahlah dengan berhati-hati bagaikan orang yang berjalan di atas tanah yang berduri. Janganlah kamu meremehkan dosa-dosa kecil, kerana gunung pula terbentuk dari gumpalan batu kerikil.” (Lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam)

Terkadang kalimat taqwa digunkan hanya dalam ungkapan yang bererti menjauhi larangan, kerana itu seorang hamba  perlu mengetahui apa saja yang harus dijaga lalu dia bertaqwa.

Dinukil dari Manhajul Anbiyaa’ Fii Tazkiyatin Nufus edisi terjemahan Manajemen Qalbu Para Nabi, terbitan Pustaka Imam Syafi’i

1 comment so far

  1. anwar mohammad on

    artikel cukup membantu saya,,,
    tapi mungkin lebih baik jika mencantumkan pengertian taqwa dalamlisanul arab secara lengkap


Tinggalkan Jawapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Tukar )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Tukar )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Tukar )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: